Film (reel life) adalah cerminan dari kehidupan nyata. Seringkali, tema film terinspirasi oleh kisah kehidupan nyata. Jadi, sebagai praktisi PR dan komunikator, mempelajari kepekaan dan kehalusan budaya sangat penting.

Seringkali, ketika klien kami menyebarkan informasi, informasi tersebut, baik dari Amerika Serikat, Eropa, LATAM, dll, kami perlu membedakan, menerjemahkan secara kontekstual, dan kemudian menyampaikan informasi tersebut ke media, pemangku kepentingan, dan publik. Informasi yang kami terima seringkali paling klinis, dan terserah kami untuk menerjemahkannya ke dalam format dan konten yang bernuansa budaya dan dapat diterima.

Bahkan di APAC, nuansa budayanya beragam. Singapura adalah negara yang agak "Barat", dan dengan demikian, penduduknya dengan mudah menyesuaikan diri dengan pesan Amerika atau Eropa, dan dapat menerimanya tanpa banyak terjemahan atau pemetaan kontekstual.

Namun, konten yang sama akan membutuhkan penyesuaian dan pengeditan budaya untuk tempat-tempat seperti Cina daratan, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Indonesia, dan sebagainya. Pesan yang sama sangat mungkin dilewatkan dan diabaikan, jika tidak ada lokalisasi dan kontekstualisasi yang memadai.

Film "Cinta seperti kelopak yang jatuh (桜のような僕の恋人)" adalah mahakarya yang menyampaikan etos Jepang, salah satu #hormat, sopan santun, namun, semangat tertentu yang memungkinkan kemudi ahli untuk membuat pihak lain merasa nyaman . Ini adalah seni yang bagus, sesuatu yang dapat kita pelajari terutama dalam skenario yang sulit, emosional, dan bahkan eksplosif. Ini sangat berguna tidak hanya dalam PR, komunikasi, tetapi bahkan dalam politik dan diplomasi.

PS – Tidak akan memberikan plotnya, tetapi jika Anda bisa, tontonlah. Ini adalah penghancur air mata yang ahli.