Ingat cerita pendek Hans Christian Andersen “Gadis kecil dengan korek api (Den Lille Pige med Svovlstikkerne)”? Akankah anak-anak masa depan masih mengetahui konteks cerita ini?

"Gadis kecil dengan korek api” adalah kisah sedih anak-anak oleh penyair dan penulis Denmark yang terkenal, tentang seorang gadis kecil yang dipaksa oleh ayahnya untuk menjual korek api di musim dingin yang brutal. Karena cuaca yang buruk, dia tidak bisa menjual korek api, jadi dia bersembunyi di sudut dan menyalakan korek api satu per satu. Karena dia lemah dan kedinginan, dia melihat penglihatan, termasuk salah satu neneknya yang sudah beristirahat, yang merupakan satu-satunya orang yang baik kepada gadis kecil itu. Kemudian gadis kecil itu meninggal dan arwah neneknya datang dan membawanya ke surga.

Kami menyalakan lilin di Gereja pada Liturgi, biasanya dengan korek api sederhana yang sama, dan baru-baru ini, dengan korek api sekali pakai. Beberapa waktu yang lalu, kami menyalakan lilin di rumah dengan korek api (saya masih melakukannya).

Korek api dulunya dapat ditemukan dan dijual di mana-mana, namun, akhir-akhir ini, sangat langka yang hampir tidak mungkin ditemukan di toko serba ada atau toko kelontong di lingkungan sekitar. Suatu hari, anak-anak mungkin tidak tahu apa itu korek api. Dan jika kita membaca cerita “Gadis kecil dengan korek api” untuk anak-anak kecil sekarang dan dalam waktu dekat, mereka mungkin akan bingung apa korek api itu.

Ada kebutuhan untuk melihat bahwa keragaman budaya dan generasi memang ada, dan dapat menciptakan tantangan bagi orang yang mencoba untuk berbicara atau menulis satu sama lain.

Kita mengetahui perbedaan budaya (apakah itu ras atau agama) dan bagaimana perbedaan tersebut dapat mempengaruhi komunikasi antara komunitas dan orang yang berbeda. Perbedaan budaya ini nyata, meskipun terkadang tersembunyi dari pandangan, dan dapat menghalangi komunikasi yang tulus dan efektif. Tidak ada alasan untuk "membodohi" komunikasi hanya untuk menenangkan "kebenaran politik", jika motifnya hanya untuk menghindari masalah. Cara yang lebih baik adalah memahami perbedaan, berempati satu sama lain, dan melalui pemahaman satu sama lain, kita mulai mengenali dan menghormati perbedaan, dan menerimanya sebagai komposisi unik dari makhluk lain.

Rasa hormat yang sejati tidak pernah hanya tentang menghindari ranjau darat komunikasi dan perilaku, tetapi untuk merangkul perbedaan, menerimanya apa adanya, dan tetap menghormati dan mencintai orang lain dengan cara yang sama. Ini tidak akan pernah mudah, tetapi akan bertahan lama, dan itu akan menghangatkan hati.

Jadi, dalam skenario di mana kita mencoba untuk menceritakan kisah “Gadis kecil dengan korek api” kepada si kecil, kita harus merangkul perbedaan, bukan menutupi perbedaan. Dalam skenario ini, daripada menghindari bercerita karena kita membayangkan si kecil tidak akan tahu apa itu korek api, sebaiknya kita bercerita, dan menjelaskan pengetahuan kontekstual di balik cerita itu kepada anak. Anak itu kemudian akan menerima kenyataan yang kita ketahui, dan juga mengenal kita lebih baik.

Misalnya, saat menceritakan kisah kepada seorang anak, carilah sumber korek api, korek api sekali pakai, dan lilin, untuk digunakan sebagai alat peraga dalam bercerita. Misalnya, kita bisa meletakkan lilin yang tidak menyala di atas meja, lalu menyalakan lilin dengan korek sekali pakai. Biarkan lilin menyala sebentar, dan matikan apinya. Anak secara kontekstual akan mengenali korek api sebagai perangkat kontemporer untuk menyalakan api kecil.

Selanjutnya, keluarkan kotak korek api saat menceritakan kisahnya, lalu nyalakan korek api untuk menyalakan lilin lagi. Anak itu akan penasaran apa tongkat kecil dengan benjolan di kepalanya itu, dan yang ketika dipukul di sisi kotak korek api, menjadi terbakar dan dapat digunakan untuk menyalakan sesuatu yang lain, seperti lilin. Kemudian jelaskan apa yang cocok itu, bagaimana mereka dibuat, dan penggunaan yang tepat.

Mendidik dan berkomunikasi dengan orang lain, termasuk orang yang jauh lebih muda satu atau dua generasi dari kita, membutuhkan kerja keras dan penelitian. Kita tidak bisa menenangkan mereka demi kenyamanan kita sendiri. Kita tidak bisa begitu saja mengambil kebebasan untuk mengucapkan omong kosong untuk menutupi mata mereka. Kita tidak bisa berharap untuk tidak melakukan apapun. Kita perlu meneliti, kita perlu menyusun informasi, kita perlu menyusun informasi, kita perlu mengartikulasikan cerita dan fakta pendukung, dan kita perlu berkomunikasi dengan senyuman.

Pada akhirnya, saya berharap suatu hari nanti, Anda dan saya masih dapat menceritakan kisah lama Hans Andersen yang bagus tentang “Gadis kecil dengan korek api”, hanya karena kita cukup peduli untuk bekerja sebelum kita mulai menceritakannya. kepada yang lain.